Mengusung Paradigma Baru Tata Kelola Perdagangan

Perdana Digelar, ICCAP 2017 Mengusung Paradigma Baru Tata Kelola
Perdagangan
Jakarta, 5 September 2017 – Kementerian Perdagangan sebagai regulator nasional di bidang perdagangan
terus berupaya menyesuaikan diri dengan berbagai paradigma di berbagai bidang. Menteri Perdagangan
Enggartiasto Lukita menekankan bahwa Kemendag dalam hal ini akan berfokus menumbuhkan paradigma
baru tata kelola perdagangan, salah satunya melalui International Conference dan Call for Paper atau ICCAP
yang baru diselenggarakan pertama kalinya pada 2017 ini.
Mendag Enggar menyampaikan ICCAP 2017 dapat berfungsi sebagai forum strategis untuk memperkuat
jaringan antara pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis di sektor perdagangan. ICCAP yang digagas oleh
Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag ini diselenggarakan pada 5-6
September 2017 di Jakarta.
“Paradigma baru tata kelola perdagangan dalam negeri antara lain berfokus pada efisiensi logistik;
peningkatan peran usahamikro, kecil, dan menengah; serta pemanfaatan teknologi informasi. Sedangkan di
bidang perdagangan luar negeri, berfokus pada upaya mendobrak pasar ekspor nontradisional dan
peningkatan peran kerja sama perdagangan internasional,” ungkap Enggar saat membuka secara resmi
ICCAP 2017, hari ini, Selasa (5/9).
ICCAP yang dirancang menjadi kegiatan tahunan ini memilih “A New Paradigm in Trade Governance to
Increase Domestic Efficiency and to Strengthen Global Competitiveness” sebagai tema utama untuk
kegiatan perdana. Pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi berbagai tantangan, perubahan situasi, dan
perkembangan teknologi saat ini yang menuntut pemerintah, khususnya Kemendag sebagai regulator
untuk menyesuaikan diri agar target-target pertumbuhan ekonomi dan kinerja perdagangan yang telah
ditetapkan dapat terwujud.
Tata kelola perdagangan untuk mendongkrak efisiensi logistik coba diupayakan Pemerintah melalui
pengembangan infrastruktur dan konektivitas dengan tol laut, pelabuhan laut baru, perbaikan fasilitas
logistik, pengembangan kawasan ekonomi khusus, serta pengembangan industri perkapalan. Sedangkan
untuk memperlancar distribusi komoditas ekspor unggulan dan potensial daerah, serta distribusi bahan
pokok dan barang penting, pemerintah juga telah mengoperasikan Gerai Maritim dan Pusat Distribusi
Regional. Upaya lain adalah pengembangan Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk meningkatkan efisiensi
logistik sekaligus menjadikan Indonesia sebagai hub logistik di kawasan Asia Pasifik.
Terkait peningkatan peran UMKM, Kemendag telah memasukkan hal tersebut dalam Rencana Strategis
Tahun 2015-2019. Agar UMKM dapat masuk ke dalam Global Value Chain (GVC), Kemendag melalui
Indonesian Design Development Center (IDDC) sejak 2016 telah menyediakan fasilitas dukungan desain bagi
pelaku usaha pemula maupun di daerah.
“Upaya ini dilakukan supaya produk-produk lokal mampu memenuhi spesifikasi pembeli dan bersaing di
pasar global,” tegas Enggar.
Enggar melanjutkan, sedangkan untuk pemanfaatan teknologi informasi, Pemerintah berkomitmen
membangun pranata dan ekosistem kegiatan perdagangan masyarakat secara elektronik untuk mendorong
perluasan dan efisiensi bisnis melalui penetapan Peta Jalan E-Commerce. Kemendag sendiri telah
memanfaatkan teknologi informasi sejak tahun 2015 dalam melakukan penyederhanaan 35 peraturan
perdagangan yang mencakup 169 jenis perizinan. Dari seluruh jenis perizinan tersebut, 98 perizinan telah
dilayani secara online, dan 47 diantaranya sudah menggunakan tanda tangan digital (digital signature).
“ICCAP ini adalah forum ilmiah sekaligus strategis yang dihadiri pembicara dan peserta dari berbagai latar
belakang yang berasal dari Australia, Jepang, Singapura, dan beberapa provinsi di Indonesia sehingga
dapat memperkuat jaringan antara pemerintah, akademisi, peneliti, serta pelaku bisnis di sektor
perdagangan,” lanjut Enggar.
Acara ini menghadirkan pembicara kunci, yaitu Pakar Ekonomi dari Crawford School of Public Policy
Australian National University Prof. Hal Hill. Narasumber lain yang menjadi pembicara pada sesi diskusi
panel adalah Prof. Vu Minh Khuong (National University of Singapore), serta Prof. Shujiro Urata (ERIA), dan
Kiki Verico, Ph.D (Universitas Indonesia).
Acara yang diselenggarakan bekerja sama dengan Australia Indonesia Partnership for Economic
Government (AIPEG), Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Universitas Indonesia, dan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia ini diikuti
250 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia dan luar negeri (Australia dan Singapura). Para peserta
antara lain terdiri dari para peneliti, akademisi, birokrat, dan pelaku usaha.
Lomba Karya Tulis Ilmiah (Call for Paper)
Selain penyelenggaraan International Conference, kegiatan ICCAP 2017 juga meliputi Call for Paper atau
lomba karya tulis ilmiah di bidang perdagangan yang dilaksanakan pada Mei 2017 hingga Juli 2017. Sebagai
ajang Call for Paper perdana, kegiatan ini berhasil mengumpulkan 84 makalah dari sepuluh provinsi di
Indonesia dan Australia. Dari 84 makalah tersebut, Komite Ilmiah ICCAP 2017 telah memilih 60 makalah
yang akan dipresentasikan selama dua hari penyelenggaraan ICCAP 2017.
Dalam laporannya, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag, Kasan,
menyampaikan bahwa seluruh makalah yang dipresentasikan akan dipublikasikan dalam prosiding
konferensi ber-ISBN. Selain itu, Komite Ilmiah ICCAP 2017 juga memilih empat makalah terbaik untuk
mendapatkan apresiasi dan kesempatan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah satu-satunya milik Kemendag,
yaitu Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP).

Comments

comments




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *